|
Berikut adalah hasil analisa Solar dan Solar setelah penambahan Additive berdasarkan spesifikasi Dirjen Migas
| TEST |
ORIGINAL |
AFTER 2 WEEKS TREATMENT WITH 0,5% SPARK DIESEL |
DIRJEN MIGAS SPEC NO.113.K/72D JM/1999 |
UNIT |
METHOD | 1. ASTM Color
| 2
| 1.5
| Max 3.0
| - | ASTM D-1500 | 2. Api Gravity @ 60° F Specific Gravity @ 60°F
| 35
0.8499
| 34.1
0.8545
| 31-41
0.820-0.870
| -
| ASTM D-1298 | 3. Flash Point
| 165
| 165
| Min. 150
| °F
| ASTM D-93 | 4. Kin. Viscosity @ 100°F
| 3.978
| 3.970
| 1.6 - 5.8
| cSt
| ASTMD-445 | | 5. Water Content | 234
| 95
| Max.500
| ppm
| Karl Fisher | 6. Copper strip Corrosion
(3hrs/ 50°C)
| 1A
| 1A
| No. 1 Max
| -
| ASTM D-130 | 7. Pour Point
| 65
| 55
| Max. 65
|
°F
| ASTM D-97 | 8. Cetane Number
| 50
| 57
| Min. 48
| -
| ASTM D-613 | 9. Total Sulphur
| 0.20
| 0.15
| Max.0.50
| % wt
| ASTM D-129 | 10. Conradson Carbon Residu on 10% Distillated Residue
| 0.04
| 0.03
| Max. 0.10
| % wt
| ASTM D-189 | 11. Sediment
| 0.002
| 0.0005
| 0.01 Max
| % wt
| ASTM S-473 | | 12. Ash Content | 0.001 | 0.0002 | 0.01 max | % wt | ASTM D-482 | |
13. Distillation Rec. Basis:
IBP
5% Vol.
10% Vol.
20% Vol.
30% Vol.
40% Vol.
50% Vol.
60% Vol.
70% Vol.
80% Vol.
90% Vol.
95% Vol.
EP
Recovery,% Vol.
Residue % Vol.
Loss, % Vol. |
184
217
233
254
266
278
288
301
315
332
355
366
378
98.0
1.5
0.5 |
174
190
218
234
268
293
316
331
341
348
347
366
382
98.0
1.5
0.5 |
et 300°C =
40% Vol. (Min.) |
°C
|
ASTM D-86 | 14. SAN
| Nil
| Nil
| Nil, Nax
| mg KOH/gram | ASTM D-974 | 15. TAN
| 0.08
| 0.08
| 0.6 Max
| mg KOH/gram
| ASTM D-974 | 16. Calori Fix Value (Gross)
(Net)
| 19601
18702
| 19791
18842
| - | BTU/Lb | ASTM D-240 | | 17. Microbiological Test | 2 x 105 | < 2000 | | Cfu/Liter | Microb Monitor 2 |
Catatan :
- Kenaikan 140 BTU /Lb akan menaikan tenaga sebesar 140 x 0.0003927 = 0.055 HP-HOURS
- Adanya kenaikan Cetane Index seiring dengan kenaikan kualitas bakar.
-
Dengan penambahan additive pertumbuhan bakteri terhambat
- Penambahan additive tidak menyebabkan perubahan physical properties terhadap Spesifikasi Dirjen Migas sehingga analisa masih dalam range yang di anjurkan.
Berikut adalah spesifikasi dari dirjen migas untuk High Speed Diesel fuel yang dikeluarkan oleh dirjen migas dengan No.113.K/72/DJM/1999 dan pembahasannya.
ASTM COLOR (ASTM D-1500)
Adalah suatu pengamatan menggunakan pembanding warna standar yang mana bahan bakar di bandingkan dengan standar warna yang ada, bilamana warna bahan bakar di luar standar spesifikasinya maka ada kemungkinan Solar tercampur dengan bahan lain.
API GRAVITY/ SPECIFIC GRAVITY (ASTM D-1298)
API Gravity/ Berat Jenis adalah suatu angka yang menyatakan perbandingan berat bahan bakar minyak pada temperatur tertentu terhadap air pada volume dan temperatur yang sama. Penggunaan Specific gravity adalah untuk mengukur berat/massa minyak bila volumenya telah diketahui. Bahan bakar minyak umumnya mempunyai Spesific gravity antara 0.74 - 0.96 dengan kata lain bahan bakar minyak lebih rendah daripada air. Di Amerika Specific gravity umumnya dinyatakan dengan satuan yang lain yaitu API Gravity ( American Petroleum Institute Gravity) denga cara perhitungan sebagai berikut :
API Gravity =141.5 : Specific Gravity (60/60 ° F) -131.5
Sehingga air pada suhu 60 °F mempunyai API Gravity sebesar 10 dan bahan bakar minyak API gravity nya lebih besar daripada 10.
FLASH POINT / TITIK NYALA (ASTM D-93)
Titik nyala adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan bakar minyak dimana akan timbul penyalaan api sesaat, apabila pada permukaan minyak tersebut didekatkan pada nyala api. Titik nyala ini diperlukan sehubungan dengan adanya pertimbangan-pertimbangan mengenai keamanan dari penimbunan minyak dan pengangkutan bahan bakar minyak terhadap bahaya kebakaran. Titik nyala ini bisa digunakan sebagai salah satu indikasi bilamana fuel tercampur dengan fraksi fraksi ringan dari suatau hydrocarbon, dimana bila fuel tercampur dengan fraksi ringan seperti kerosene, wash solvent maka kecenderungan angka flash point akan semakin turun.
KINEMATIC VISCOSITY / VISKOSITAS (ASTM D-445)
Viskositas adalah suatu angka yang menyatakan besarnya perlawanan/hambatan dari suatu bahan cair untuk mengalir atau ukuran besarnya tahanan geser dari bahan cair. Makin tinggi viskositas minyak akan makin kental dan lebih sulit mengalir, demikian sebaliknya. Viskositas bahan bakar minyak sangat penting artinya, terutama bagi mesin-mesin diesel maupun ketel ketel uap, karena viskositas minyak sangat berkaitan dengan suplay konsumsi bahan bakar kedalam ruang bakar dan juga sangat berpengaruh terhadap kesempurnaan proses pengkabutan (atomizing) bahan bakar melalui injector. Bilamana Viscositas terlalu tinggi maka proses atomizing akan terganggu karena kecenderungan bahan bakar yang mempunyai viskositas tinggi akan sulit dikabutkan, Sedangkan untuk bahan bakar yang mempunyai viskositas rendah dapat menimbulkan abrasive/gesekan dalam ruang bakar karena gerakan piston dalam prosesnya membutuhkan pelumasan. Viskositas juga dapat dijadikan bahan untuk mengetahui bilamana bahan bakar tersebut tercampur fraksi ringan atau tidak, Bila suatu bahan bakar dalam hal ini Solar tercampur dengan bahan bahan dari fraksi ringan maka nilai viskositas kecenderungannya akan turun.
WATER CONTENT / KADAR AIR (Karl Fisher)
Kadar air adalah salah satu partameter terpenting dalam penentuan kualitas bahan bakar, karena bila kadar air terlalu besar didalam bahan bakar beberapa kendala akan muncul seperti :
- Nilai kalori (Calorific value) akan turun
- Tumbuhnya mikroorganisme.
- Terbentuknya deposit dari unsur unsur anorganik yang terdapat di air.
- Terjadinya karat/korosi.
COPPER STRIP CORROSION / KOROSI BILAH TEMBAGA (ASTM D-130)
Pada dasarnya minyak bumi mengandung senyawa senyawa sulphur , dan pada saat proses pengolahan, senyawa sulphur ini di kurangi keberadaanya untuk mendapat product yang berkualitas, senyawa sulphur yang masih terkandung di product minyak bumi dapat menyebabkan korosi terhadap beberapa jenis logam dan penetapan korosi ini tidak secara langsung berhubungan dengan kandungan total sulphur di dalam product. Tetapi efek nya bervariasi tergantung pada jenis jenis dari senyawa sulphur yang ada. Penetapan Korosi Bilah Tembaga ini di buat untuk memperkirakan derajat relative korosi dari suatu product minyak bumi.
POUR POINT / TITIK TUANG (ASTM D-97)
Titik Tuang adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan bakar minyak sehingga minyak tersebut masih dapat mengalir karena gravitasi. Nilai Titik tuang ini di butuhkan sehubungan dengan persyaratan praktis dari prosedur penimbunan dan pemakaian dari bahan bakar minyak. Hal ini dikarenakan bahan bakar minyak sering sulit untuk dipompa apabila suhu telah dibawah titik tuangnya.
CETANE NUMBER / CALC. CETANE INDEKS / ANGKA CETANA (ASTM D-613)
Angka Cetana adalah suatu angka yang menyatakan kualitas pembakaran dari bahan bakar mesin diesel, yang diperlukan untuk mencegah terjadinya Diesel Knock atau suara pukulan di dalam ruang bakar mesin diesel.Untuk mesin diesel dengan putaran tinggi diperlukan bahan bakar minyak dengan angka cetana tinggi, begitu juga sebaliknya.Cetane adalah suatu senyawa alkana yang mudah terbakar dibawah tekanan, karenanya diberi nilai sebagai angka cetana 100. Semua hydrocarbon yang jumlahnya ratusan di dalam solar dan mepunyai angka Cetana berbeda beda kemudian di indeks kan ke senyawa cetane sebagai acuan, untuk melihat sebagus apa pembakarannya di bawah tekanan. Angka Cetana secara keseluruhan adalah nilai rata rata angka Cetana dari setiap komponen.
TOTAL SULPHUR / TOTAL BELERANG (ASTM D-129 /ASTM D-1551/ASTM D-4294)
Semua bahan bakar minyak mengandung Belerang dalam jumlah sedikit. Walaupun demikian keberadaan Belerang ini tidak diharapkan karena sifatnya merusak, maka pembatasan dari jumlah kandungan Belerang dalam bahan bakar minyak adalah sangat penting di dalam bahan bakar. Hal ini disebabkan karena proses pembakaran, belerang ini teroksidasi oleh oksigen menjadi belerang dioksida (SO 2 ) dan belerang trioksida (SO 3 ). Oksida belerang ini apabila kontak dengan air merupakan bahan bahan yang sangat korosif terhadap logam logam didalam ruang bakar dan sistem gas buang. Demikian juga untuk penimbunan/storage dalam tangki tangki penampungan keberadaan senyawa Belerang dapat pula menyebabkan korosi baik itu berupa senyawa organo belerang ataupun senyawa belerang dalam air.
CONRADSON CARBON RESIDUE / ARANG RESIDU (ASTM D-189)
Pemeriksaan karbon/arang pada minyak solar dan minyak diesel diperlukan untuk memperkirakan kemungkinan terbentuknya karbon/arang pada proses pembakaran yang berasal dari bahan bakar minyak tersebut, karena hal ini dapat menyebabkan kerak arang pada injector dari mesin diesel.
SEDIMENT (ASTM D-473)
Sediment adalah partikel padatan yang tersuspensi dalam suatu larutan, unsur unsur sediment bisa berupa partikel partikel Karbon, partikel anorganik atau partikel partikel yang berasal dari faktor external, seperti debu,partikel yang dikeluarkan oleh suatu proses produksi, dll. Pemeriksaan sediment diperlukan untuk mengetahui tingkat kebersihan bahan bakar, hal ini juga berkaitan erat dengan umur pemakaian filter bahan bakar, makin kecil sediment, makin awet filter yang akan digunakan
ASH CONTENT / KADAR ABU (ASTM D-482)
Kadar abu adalah jumlah sisa sisa dari minyak yang tertinggal apabila minyak dibakar sampai habis. Kadar abu ini dapat berasal dari minyak bumi sendiri atau akibat proses korosi dalam sistem pemipaan atau penimbunan (Adanya partikel logam yang tidak bisa terbakar).
DISTILLATION / DESTILASI (ASTM D-86)
Distilasi dari suatu bahan bakar bertujuan untuk mengetahui potongan fraksi dari suatu bahan bakar solar. Juga bisa digunakan sebagai pertimbangan bilamana bahan bakar tersebut tercampur dengan fraksi fraksi dibawah solar dengan melihat Inital Boiling Point (IBP), bilamana IBP terlalu rendah maka ada kemungkinan solar tercampur dengan fraksi fraksi ringan.
Bila kita mengacu kepada dirjen Migas tertulis pada pada range destilasi 300 °C = 40 % volume minimum. Dengan mendapatkan distilat kurang dari 40 % pada suhu 300 °C, kemungkinan bahan bakar ini mengandung pelumas & lilin/wax yang banyak (umumnya pelumas & lilin ini banyak ditemui pada temperature di atas 300 °C) Kualitas bahan bakar seperti ini akan rendah, karena pelumas & lilin mempunyai nilai qualitas bakar (Calorific value) yang rendah.Kemungkinan yang lain juga untuk mencegah terjadinya pencampuran Solar dengan fraksi middle destilat hingga heavy destilat, seperti oli oli bekas dan lain lain.
STRONG ACID NUMBER (SAN) / TOTAL ACID NUMBER (TAN) (ASTM D-974)
Total Acid Number/angka asam total adalah besaran yang menunjukkan tingkat keasaman organic (organic acid compound) dari suatu produk minyak, biasanya dinyatakan dalam mg KOH/g sample. Senyawa senyawa Organic acid ini akan bertambah dengan adanya oksidasi dari bahan bakar/hydrocarbon tersebut. Karena macam macam jenis oksidasi memberikan kontribusi terhadap nilai asam dan senyawa senyawa organik acid memberikan bermacam macam variasi dalam sifat sifat korosi, maka test ini tidak bisa digunakan untuk memprediksi tingkat korosi dari minyak/bahan bakar. Bilamana di ketemukan angka acid number dalam jumlah besar disarankan untuk melakukan breakdown analysis dari senyawa seyawa organic acid sehingga kita bisa mengetahui tingkatan korosi masing masing senyawa. Sedangkan Strong Acid Number (SAN) berkaitan dengan asam-asam anorganik
CALORIFIC VALUE / NILAI KALORI (ASTM D-240)
Nilai Kalori adalah suatu angka yang menyatakan jumlah panas/kalori yang dihasilkan dari proses pembakaran sejumlah tertentu bahan bakar dengan udara/oksigen. Nilai kalori bahan bakar minyak umumnya antara 18.300 - 19.800 BTU/lb atau 10.160 - 11.000 kcal/kg. Nilai kalori berbanding terbalik terhadap berat jenis. Pada volume yang sama,semakin besar berat jenis suatu minyak akan semakin rendah nilai kalorinya. Nilai kalori diperlukan karena dapat digunakan untuk menghitung jumlah konsumsi bahan bakar minyak yang dibutuhkan untuk suatu mesin dalam suatu periode.
Contoh perhitungan:
1 BTU (British Termal Unit) = 0.0003927 Horse power-hours. Maka setiap found BBM dengan Nilai kalor 19.000 BTU/Lb, akan memberikan nilai tenaga sebesar 19.000 x 0.0003927 = 7.46 horsepower - hours (Tenaga kuda-jam)
MICROBIOLOGICAL TEST
Microbiological test diperlukan untuk penanganan dalam system penimbunan yang berkaitan dengan penanganan korosi dan sedimentasi. Ada 2 tipe mikroorganime dalam hal ini yaitu Microorganisme anaerob (Sani check, rapid check, broth bottle test ) dan aerob (micromob monitor2) . Kesamaan akibat yang ditimbulkan dari keduanya adalah menyebabkan korosi. Sedangkan hasil produk senyawa korosinya berbeda yaitu Anaerob = FeS ,berwarna hitam Aerob = Fe 2 CO 3 , berwarna kecoklatan.
Produk korosi yang dihasilkan akan mempengaruhi kebersihan bahan bakar. Kesamaan lain dari mikroorganisme ini adalah bahwa keduanya tidak mungkin tumbuh bilamana tidak ada air didalam sistem bahan bakar. Bila membahas lebih jauh mengenai ketiadaan air disuatu bahan bakar terutama di daerah yang beriklim tropis dengan humidity tinggi seperti nya sangat sulit untuk di realisasikan oleh karena itu diperlukan penambahan biocide untuk menanggulanginya, terutama untuk penimbunan yang membutuhkan waktu lama. |